Novel cinta di ujung sajadah ini merupakan karya best seller dari Asma Nadia. Novel ini mengisahkan tokoh utama yang bernama cinta yang memiliki banyak cobaan dalam hidupnya.
Penasaran dengan isi novel ini? kamu bisa baca dulu resensi novel cinta di ujung sajadah pada artikel ini.
Akan di bahas unsur penting dalam novel. Mulai dari identitas, sinopsis, intrinsik hingga pesan moral yang terkandung dalam novel tersebut. Simak yuk!
Judul Novel | Cinta di Ujung Sajadah |
Penulis | Asma Nadia |
Jumlah halaman | 392 halaman |
Ukuran buku | 13,5×20,5 cm |
Penerbit | PT. Republika Penerbit |
Kategori | Fiksi Religi |
Tahun Terbit | 2020 |
Harga novel | Rp.75.000,- |
Novel cinta di ujung sajadah ini merupakan sebuah karya best seller dari penulis ternama yaitu Asma Nadia.
Dimana novel ini memiliki ketebalan mencapai 392 halaman dan mulai di terbitkan pada tahun 2020 oleh PT. Republika Penerbit.
Novel ini mengisahkan seorang gadis yang bernama Cinta Ayu yang tinggal bersama ayah dan ibu tiri serta dua saudara tirinya. Mendapatkan ibu dan saudara baru tak membuat kehidupan cinta lebih baik.
Ia hidup bak cinderella yang mendapatkan perlakuan tak adil dari ibu dan saudara tirinya. Sang ayah yang seharusnya menjadi pelindung bagi putri kandungnya pun sering memihak kepada istrinya yang cantik bak model.
Meski ia tahu anaknya tidak bersalah. Pertengkaran di meja makan kerap kali terjadi saban pagi ketika Cinta akan pergi ke sekolah.
Meskipun Mama Alia begitu cantik, hal ini tidak menular ke kedua anak perempuannya.
Anggun yang memiliki tubuh kurus dan kurang percaya diri. Sangat kontras dengan Cantik yang dimiliki tubuh gempal tapi memiliki rasa percaya diri yang tinggi tapi norak.
Sedangkan Cinta, ia tidak cantik juga tidak jelek, tidak kurus juga tidak gemuk hal ini sangat membuat Anggun dan Cantik iri kepadanya.
Tapi Cinta tak perduli terhadap perlakuan Anggun dan Cantik yang kerap memancing emosinya karena hal sepele. Tapi, Cinta tak tahan jika Anggun dan Cantik menyinggung tentang ibu kandungnya.
Ibu adalah sosok yang tak pernah Cinta kenal, tak tahu bagaimana rupa dan suaranya. Kerinduan tentang ibu menjadikan Cinta terobsesi memotret foto ibu dari teman-temannya.
Tak terhitung jumlah potretan dengan objek berbeda dari wajah sendu dan keibuan hanya saja itu bukan ibu Cinta. Kasih sayang yang Cinta dapatkan hanya dari Mbok Nah pembantu rumah tangganya.
Di tengah kesedihan mendapatkan perlakuan kurang baik dari saudara tirinya hadir sosok lelaki bernama Makky Matahari Muhammadi ia yang selalu memberikan support serta sahabat-sahabatnya di sekolah.
Dan angin segar mulai menerpa wajahnya ketika ia berulang tahun ke 17. Mbok Nak membeberkan semua kebenaran tentang Ibu Cinta yang akhirnya membawa Cinta untuk mencari keberadaan ibunya.
Akankah Cinta berhasil menemukan siapa ibunya? Yuk, simak novel ini sampai akhir ya!
Dalam resensi novel cinta di ujung sajadah terdapat unsur intrinsik di dalamnya yaitu:
Tema yang diangkat dalam novel ini yaitu tentang persahabatan, dan juga tentang keluarga dan juga cinta.
Alur yang digunakan dalam novel ini yaitu menggunakan alur campuran terdapat alur maju dan alur mundur dalam novel ini.
Latar waktu yang digunakan dalam novel cinta di ujung sajadah ini yaitu menggunakan latar waktu pagi hari, siang hari, dan juga malam hari.
Latar tempat yang digunakan dalam novel ini yaitu Jakarta, Bandung, Bogor, Jogja, di rumah Cinta, di sekolah dan juga di perjalanan Cinta yang penuh bahaya saat mencari ibunya.
Sudut pandang yang digunakan dalam novel cinta di ujung sajadah ini menggunakan sudut pandang orang ke ketiga yang serba tahu.
Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini yaitu menggunakan gaya bahasa yang ringan dan mudah di pahami oleh semua kalangan.
Amanat yang terkandung dalam novel ini yaitu di balik ketegaran seorang anak pasti ia membutuhkan kasih sayang dari ibunya dan kasih sayang ibu tak terhingga sepanjang masa.
Berikut merupakan unsur ekstrinsik novel cinta di ujung sajadah yaitu:
Sikap ibu tiri dan saudara tiri dari Cinta yang selalu berbuat tidak adil itu merupakan sebuah tindakan yang tidak patut di contoh.
Sikap Makky yang selalu support Cinta dalam keadaan apapun ia sahabat yang sangat baik.
Terakhir dari resensi novel cinta di ujung sajadah yaitu pesan moralnya adalah di balik ketegaran seorang anak pasti ia membutuhkan kasih sayang dari ibunya dan kasih sayang ibu tak terhingga sepanjang masa.
Hanya seorang Blogger enthusiasm dan penikmat kopi saja. Suka berbagi pengetahuan kecil & bercita-cita jadi pengusaha media.