Cerita Rakyat Timor Tengah Selatan Beserta Pesan Moralnya

Cerita Rakyat Timor Tengah Selatan Beserta Pesan Moralnya

Gambar dibuat dengan Canva Pro

Fatu Antonis merupakan salah satu cerita rakyat Timor tengah Selatan yang cukup melegenda jika pada artikel lainnya kita membahas mengenai kerajaan Amanabun kita beranjak ke cerita rakyat yang terjadi di kerajaan Amanatun.

Untuk lebih jelasnya kamu bisa simak lengkap kisahnya di bawah ini akan dikisahkan secara lengkap. Simak sampai akhir ya!

Cerita Rakyat Timor Tengah Selatan Batu Penelan Manusia

Pada zaman dahulu kala di kerajaan Amanatun tepatnya di Kabupaten Timor tengah Selatan (TTS) di sana berkuasalah seorang raja yang bernama Usif Banmeni.

Dimana Usif Banmeni mempunyai banyak sapi, kuda dan kambing. Diantara seian banyak ternak, terdapat dua orang gembala yang merawat hewan-hewan tersebut yang bernama Neno dan Fai.

Dan pada suatu hari, beberapa ekor kambing yang digembalakan oleh Neno dan Fai hilang. Kemudian mereka berdua mencarinya. Neno dan Fai masuk hutan keluar hutan untuk mencari kambing-kambing tersebut.

Dan mereka tibalah di sebuah sungai yang bernama Sungai Tumut atau biasa di sebut Noe Tumut. Sungai Noe tersebut merupakan batas alam antara Desa Lilo Kecamatan Amanatun Utara dengan Desa Oeleu, Kecamatan Toianas.

Setelah itu, mereka mulai menyebrangi sungai Tumut tersebut. Dan setelah menyebrangi sungai itu turunlah hujan yang sangat amat deras disertai dengan kilat dan halilintar seaan sambung menyambung.

Gemanya seakan membelah bumi dan mereka mulai merasa dingin, lapar dan juga sangat ketakutan. Di dalam kegelapan senja itu nampaklah sebuah rumah bula (ume Kbubu). Rumah bulat ini ume kbubu ini merupakan rumah bulat budaya Timor.

Dimana rumah kbubu ini memiliki bentuk kerucut dengan pintu tunggal. Dan dengan adanya Ume Kbubu tersebut maka cepat-cepat Neno dan fai berlari menuju ke rumah itu karena ingin berteduh.

Seketika terasa bulu kuduk mereka merinding, mereka teringat akan dongeng yang sering mereka dengan tentang (Be Lana). Be Lana ini merupakan seorang nenek jin yang jahat dan suka memangsa manusia.

Kemudian sementara mereka berpikir, nenek tersebut telah melihat dan menyapa Neno dan Fai dengan lembut, wajah nenek tua itu kelihatan tidak terlihat penampakan yang menyeramkan seperti gambaran wajah nenek Be Lana yang bengis dan buruk.

Kemudian nenek itu mempersilahkan Neno dan Fai masuk, setelah itu nenek itu bertanya “cucu mau kemana? Kami sedang mencari kambing-ambing Usif Benmeni yang hilang”

Lalu keduanya masuk dan berlindung dalam Ume Kbubu tersebut. Nenek itu kemudian menanyakan rupa-rupa hal pada Neno dan Fai. Sementara mereka bercakap rasa kantuk keduanya tak tertahankan. Padahal nenek itu adalah nenek jin Be Lana yang selama ini didengar oleh mereka dalam cerita dongeng.

Dan ketika nenek tua itu melihat Neno dan Fai sudah tertidur pulas, nenek jin Be Lana segera menutup pintu rumah bulan ume kbubu tersebut.

Dan pandangan pun beralih pada Neni dan Fai telah dikelabui sehingga nenek jin Be Lana kelihatan ramah dan gua batu yang dimasuki dikira sebuah rumah bulat.

Kemudian selang beberapa saat, Neno dan Fai terbangun, mereka terkejut dengan mimpi yang sama agar segera meloloskan diri dari bencana yang sedang menimpa.

Mereka sangat terkejut dan ketakutan karena rumah kecil yang mereka masih itu ternyata sebuah gua batu yang suasananya mengerikan dan menakutkan.

Nenek yang penuh dengan senyuman juga tidak ada lagi, keduanya kemudian berusaha merangkak keluar tetapi pintu gua sudah tertutup perlahan-lahan. Keduanya terlambat karena dengan susah payah merangkak mencapai pintu gua.

Dan pintu gua tersebut pun tertutup rapat yang ada hanyalah sebuah lubang kecil . dan keduanya mulai sadar bahwa mereka telah terjebak oleh nenek Be Lana. Lalu mereka berteriak histeris dan menangis sekeras-kerasnya.

Namun, usaha mereka sia-sia tangan mereka di keluarkan dari lubang itu untuk meminta tolong namun pertolongan yang diharapkan tidak kunjung tiba.

Akhirnya mereka kehabisan tenaga, teriakan dan tangisan mereka semakin melemah. Sementara itu, di Sonaf atau istana Usif Banmeni terjadi kepanikan karena kedua anak pengembala kambing tak kunjung pulang.

Lalu Usif Banmeni memerintahkan rakyat untuk mencari Neno dan Fai. Setelah bertanya kesana-kemari tak seorang pun mengetahui dimana Neno dan Fai berada. Rakyat lalu memutuskan untuk menyusuri sungai tumut.

Karena mungkin kedua anak itu telah terbawa arus banjir semalam. Setibanya di dekat gua batu itu, mereka lalu mendengar teriakan yang sayup-sayup mereka lalu berkerumun ke gua dan berusaha menolong kedua anak malang tersebut.

Dan temuan ini kemudian di laporkan ke Usif Banmeni dan Usif memerintahkan seluruh rakyatnya mereka masing-masing membawa peralatan untuk membelah batu itu.

Tetapi, batu itu ternyata cukup keras. Usaha itu sia-sia, sementara itu suara kedua anak itu melemah dan akhirnya berhenti keduanya telah mati lemas.

Nah, setelah itu mereka bermusyawarah sebentar akhirnya tangan-tangan Neno dan Fai di potong sebagai barang bukti. Kemudian dengan upacara adat, tangan-tangan dari Neno dan Fai tersebut dikuburkan di samping gua batu itu.

Kubur itu berbentuk bulat dan bekas-bekasnya  masih dilihat sampai saat ini. mulai saat itu, gua batu tersebut dalam bahasa orang Timor yaitu bahasa dawan disebut “Fatu Alatoni” artinya batu penelan manusia.

Dan lama kelamaan batu itu disingkat menjadi Fatu Atoni atau batu manusia.  Dan kini Neno dan Fai tinggal menjadi kenangan. Tapi fatu atoni ini adalah saksi bisu yang masih tetap berdiri.

Saksi dari suatu kerja keras yang tidak mengenal lelah. Saksi dari suatu perjuangan yang penuh rasa tanggung jawab dan dua pemuda desa miskin yaitu Neno dan Fai.

Pesan Moral Dari Cerita Rakyat Timor Tengah Selatan

Nah, pesan moral dari cerita rakyat Timor tengah Selatan ini terdapat dari dua orang pengembala yaitu Neno dan Fai mereka merupakan dua orang pemuda yang miskin namun mereka memiliki sikap tanggung jawab yang luar biasa.

Dimana dengan kegigihan mencari kambing-kambing Usif yang hilang meski dalam keadaan lapar dan menggigil kedinginan mereka terus mencari hingga petaka itu menimpa mereka.

Selain itu, sikap Usif yang seorang Raja ia sangat berwibawa dan menjadikan kepentingan rakyat diutamakan termasuk saat memerintahkan rakyatnya untuk menolong kedua pemuda tersebut.

Tidak hanya itu, cara mereka menguburkan Neno dan Fai yang hanya terlihat tangannya pun sungguh memanusiakan manusia meskipun cerita ini di luar nalar tapi sikap dari pemimpin itu sungguh sangat di hargai.

Tidak hanya, itu sikap rakyat yang juga bekerjasama membantu sesama itu juga sangat patut diacungi jempol ya meskipun hal yang mereka lakukan telah sia-sia karena dua pemuda tersebut tidak berhasil di tolong tapi gerakan mereka untuk mencari sangatlah gesit dengan gotong royong saling membahu.

Kesimpulan

Demikian cerita rakyat timor tengah selatan yang berjudul Fatu Antoni ini cukup dijadikan pengetahuan dan juga pembelajaran bahwa sikap tanggung jawab memang harus dilakukan dan mencari solusi di saat masalah dan jalan keluar itu buntu harus bermusyawarah.

Suka membaca novel dan dunia literasi. Menuangkan ke dalam tulisan agar banyak orang yang tahu apa yang aku baca hari ini.

Artikel Menarik Lainnya: