Cerita Rakyat Batu Menangis, Cerita Dari Kalimantan

Cerita Rakyat Batu Menangis, Cerita dari Kalimantan

Gambar dibuat dengan Canva Pro (Premium)

Cerita rakyat batu menangis ini adalah sebuah cerita rakyat yang cukup memiliki banyak pesan moral di dalamnya. Sebuah kisah yang mengajak orang tua untuk menanamkan kemandirian dan budi pekerti pada anak sejak usia dini berikut kisah lengkapnya.

Cerita Rakyat Batu Menangis Lengkap

Cerita Rakyat Batu Menangis

Dalam artikel cerita rakyat batu menangis ini akan kami jelaskan lengkap mulai dari asal usul hingga pesan moralnya lengkap:

1. Asal Usul Legenda Batu Menangis

Cerita rakyat batu menangis ini berasal dari daerah Kalimantan Barat yang memberikan pesan moral bahwa kecantikan tidak akan ada artinya apabila bersifat kurang ajar. Dan asal mula cerita dongeng ini adalah dari rasa kecewa seorang ibu yang tercipta.

Kamu yang penasaran dengan batu menangis ini kamu bisa berkunjung ke Seribu Sungai atau Kalimantan Barat di Desa Jabar di Kecamatan Ella Hilir.

2. Memanjakan Anak Kesayangan

Legenda batu menangis mengisahkan Darmi, merupakan anak perempuan yang berwajah cantik tapi durhaka. Darmi memiliki watak yang sombong, manja, dan enggan untuk membantu ibunya. Demi menjaga kecantikannya keseharian Darmi hanya diisi dengan bersolek.

Darmi setiap hari hanya mandi, menyisir, dan berdiam diri di rumah. Sedangkan ibunya, merupakan seorang janda yang setiap hari membanting tulang di kebun untuk menghidupi dirinya dan Darmi. Tidak sekalipun ibunya memikirkan kulitnya yang menjadi gelap dan bau keringat.

Hidup menjanda di umur yang cukup tua meninggalkan ibu banyak pilihan. Ia tak mungkin menikah lagi, jadi ibu harus berusaha sendiri untuk menghidupi anak perempuan kesayangannya yaitu Darmi.

Setiap hari ibu bekerja keras. Mengurus kebun sayur sejak pagi buta : menanam bibit, menyiram, memberi pupuk, menyiangi semak, memanen, dan menjual hasil panen ke pasar. Belum lagi mengurus anak yang masih kecil, juga mencari kayu bakar untuk memasak.

Kulit ibu yang awalnya cerah, lama-lama menggelap karena terpapar sinar matahari. Berat badannya menyusut, ibu tidak memiliki waktu untuk mengurus dirinya sendiri.

Harapan sang ibu, Darmi bisa hidup bahagia, tak seperti dirinya. Maka Darmi pun dimanja, penuh kasih sayang. Darmi tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kulitnya kuning langsat, tubuh semampay, paras mempesona, dan rambutnya hitam lebat.

Darmi juga selalu mengenakan baju yang indah dan aksesoris yang mentereng. Berbeda dari sang ibu yang sudah lama tak membeli barang untuk diri sendiri. Ia sudah tua, pikirnya. Tak memerlukan lagi semua hal itu.

 Darmi sadar kalau dirinya sangat cantik. Tapi hanya itu pula yang Darmi lakukan. Mengagumi diri sendiri sepanjang hari, saat ibu bekerja keras di kebun.

Suatu hari ibu lupa mengantar pesanan sayur ke pelanggannya di desa. Ibu meminta tolong kepada Darmi untuk memasak. Namun saat pulang, ternyata Darmi masih bersolek. Jangankan memasak, kamarnya pun masih berantakan, seperti saat ibu tingggalkan.

Saat ditanya, Darmi malah geram, karena ibu mengganggunya berdandan dan meninggalkannnya kelaparan. Akhirnya ibu juga yang memasak makanan kemudian membereskan kamar Darmi. Darmi makin keenakan, untuk mengambil segelas air saja harus memanggil ibu.

Tak pernah sekalipun Darmi mengerjakan pekerjaan rumah, apalagi berpanas-panasan di kebun sayur atau mengantar dagangan ke pasar di kaki bukit. Tapi saat menginginkan sesuatu, Darmi akan merengek hingga mendapatkan apa yang dia inginkan.

Jika ibu tidak punya uang, Darmi marah besar. Mengatakan ia kesal dilahirkan di keluarga miskin. Hal itu membuat ibu sedih, dan seringkali menguras uang tabungannya. Bagaimanapun, Darmi adalah satu-satunya cinta ibu, anaknya tersayang yang ia besarkan sendiri dari kecil.

Sedangkan sang ibu menarik gerobak berisi sayur dengan tubuh rentanya. Satu, dua orang melihatnya sambil memberi pandangan sinis. Di benak Darmi, itu karena memiliki ibu dengan penampilan bak pengemis, kurus dan lusuh.

Darmi sengaja mengikuti ibu menjual sayur lebih dulu agar bisa mengintip penghasilan yang di dapatkan oleh ibu. Setelah itu Darmi langsung meminta uang. Awalnya ibu hanya memberi uang hanya untuk membeli sisir, akan tetapi Darmi malah memarahinya di depan umum.

Akhirnya ibu pun lelah akan perangai anaknya, dan ibu pun pasrah. Dan menyerahkan semua pendapatannya di hari itu, entah bagaimana caranya besok ia akan membeli bibit dan beras. Akan tetapi Darmi tidak memikirkan hal itu sama sekali.

Darmi merasa senang dan membelikan uang itu untuk semua hal yang terlihat menarik. Tapi setiap ibu menghampiri untuk mengakrabkan diri atau memujinya, Darmi malah melengos. Beberapa kali ibu mencoba  hingga akhirnya tak tahan, dan membiarkan Darmi menghabiskan uang nya.

Kecantikan Darmi membuatnya banyak di sapa pemuda di pasar, sampai ada yang mau mengantarkan nya pulang. Bagaimanapun ibu khawatir akan keselamatan anaknya. Ibu mengikuti Darmi dari belakang untuk menjaganya.

Darmi kelihatan asik sekali mengobrol dengan komplotan pemuda yang katanya mau mengantar pulang itu. Tetapi makin lama-kelaman pemuda-pemuda itu makin mendekati darmi. Sehingga ibu harus memperingati Darmi dengan memanggilnya.

Dan sontak para pemuda itu ikut menengok, dan bertanya kepada Darmi apakah yang memanggilnya itu adalah ibunya. Darmi hanya tertawa dan mengatakan bahwa bagaimana mungkin wanita yang terlihat seperti gembel itu adalah ibunya.

Darmi mengatakan bahwa dia berasal dari keluarga berada, ibunya cantik dan sedang menunggu di rumah. Darmi juga mengatakan bahwa wanita itu hanya pekerja rendahan di rumahnya. Para pemuda tadi pun ikut tertawa.

Ibu tak kuat lagi ia pun melepas gerobak yang dipegangnya lalu bersimpuh ke tanah. Sakit hatinya, ibu pun menangis. Ia keluarkan semua tangis yang tertahan selama ini dan seraya meminta pertolongan Tuhan untuk mengakhiri sakit hati, lelah dan doanya yang sia-sia kebahagiaan Darmi.

Langit pun berubah menjadi gelap, angin berhembus kencang. Ternyata Tuhan mendengarkan doanya. Darmi yang masih dikelilingi para pemuda tiba-tiba merasa kakinya kaku dan terasa berat. Seketika Darmi menyadari bahwa ia terkena kutuk karena perbuatannya pada sang ibu.

Saat tubuhnya semakin berat, Darmi menangis ketakutan. Saking beratnya tubuh Darmi tertarik ke tanah. Kini ia bersimpuh, menangis makin kencang. Dan akhirnya kakinya berubah menjadi batu, lanjut ke pinggulnya.

Darmi makin ketakutan, ia memanggil-manggil ibu. Meminta maaf dan berjanji tak akan mengulangi perbuatannya lagi. Ibu hanya bisa melongo, lalu menghampiri putrinya yang separuh berubah menjadi batu.

Keduanya hanya bisa menangis bersama, hingga akhirnya Darmi berubah sepenuhnya menjadi batu. Namun anehnya, dari dalam batu Darmi tetap keluar air mata hingga beberapa lama. Batu itu dipindah ke sisi tebing menghadap langit agar Darmi tak kesepian dan warga menyebutnya Batu menangis.

3. Pesan Moral dari Legenda Batu Menangis

  • Sebagai orang tua kita harus mendidiknya dan tanamkan kemandirian sejak dini. Terlebih dalam menyikapi keadaan dan kondisi kehidupan. Tanamkan etika dalam berpikir serta sopan santun.
  • Jika melakukan kesalahan orang tua patut memberi teguran sebaik-baiknya. Agar anak juga paham hal-hal yang baik maupun yang pantas atau tidak pantas dilakukan.
  • Dan sebagai anak, kita harus menghormati orang tua apapun keadaannya. Kenyataan segala bentuk kondisi orang tua maupun keluarga adalah bagian dari diri kita. Menyayangi keluarga dan orang tua artinya menyayangi diri kita sendiri.

Suka membaca novel dan dunia literasi. Menuangkan ke dalam tulisan agar banyak orang yang tahu apa yang aku baca hari ini.

Artikel Menarik Lainnya: