10 Contoh Cerpen Hari Guru & Pendidikan [Seru & Menarik]

10 Contoh Cerpen Hari Guru & Pendidikan [Seru & Menarik]

Contoh Cerpen Hari Guru

Contoh Cerpen Hari Guru akan kamu temukan dalam artikel ini secara lengkap. Karena kali ini saya akan membahas mengenai berbagai contoh cerpen singkat yang memuat banyak pesan moral.

Jika kamu sedang mencari referensi cerpen. Kamu sudah mengunjungi artikel yang tepat. Simak yuk!

Kumpulan Contoh Cerpen Hari Guru & Pendidikan

berikut merupakan kumpulan contoh cerpen hari guru dan pendidikan, diantaranya adalah:

1. “Guru Tulus”

Namanya Bu Aisyah. Ia merupakan guru yang mengajar di sebuah TK di kampung kami. Ia sudah mengabdikan dirinya secara tulus selama 12 tahun di TK tersebut. Karena susahnya mencari guru tidak ada yang mau menggantikan beliau meski ia sudah tua.

Ya usianya kini sudah hampir mau 40 tahun namun ia masih bersemangat. Dan suatu ketika ada seorang anak yang BAB di celana anak itu menangis dan di olok-olok oleh teman-temannya. Namun Bu Aisyah tanpa jijik ia membersihkan anak tersebut dan menenangkannya.

25 tahun kejadian itu telah berlalu. Kini beliau sudah pensiun dan mulai sakit-sakitan. Namun, suatu hari ia kedatangan tamu seorang lelaki tampan dan gagah dan memakai seragam polisi.

Usut punya usut ternyata lelaki tersebut adalah sang murid yang Bu Aisyah dulu bersihkan saat BAB di celana. Lelaki tersebut selalu mengenang kejadian itu saat yang lain menjauhiku hanya Ibu yang dengan tulus membantuku ia mengucapkan banyak terima kasih.

2. “Pentingnya Pendidikan”

Aku merupakan seorang guru Biologi di SMA. Namaku adalah Ferdian dan biasa di panggil pak dian jika di sekolah. Aku merupakan guru PNS yang telah di angkat dari 5 tahun yang lalu.

Di kampungku guru PNS merupakan seorang yang dibilang sudah mapan. Sehingga jabatan itu sangat di pandang tinggi oleh sebagian warga kampungku. Tidak mudah aku mendapatkan gelar ini.

Banyak perjuangan yang telah aku hadapi. Dari mulai bekerja serabutan untuk biaya sekolah mulai dari SMA hingga kuliah. Membantu pekerjaan orang tua, meyakinkan mereka untuk aku terus melanjutkan sekolah.

Saat dihadapan siswa siswiku aku bercerita pengalaman pahitku dalam menimba ilmu. Dan pengalaman tersebut tidak menjadikanku putus asa namun dijadikan motifasi agar lebih giat lagi dalam belajar.

Aku selalu menanamkan bahwa pendidikan sangatlah penting. Kejarlah cita-cita kalian. Karena tiada usaha yang akan menghianati hasil. Dan mereka pun bersemangat kembali untuk belajar.

3. “Susahnya Mencari Pekerjaan

Dian berusia 18 tahun ia berasal dari keluarga sederhana yang ingin mewujudkan cita-citanya. Dan ia meminta dukungan bahwa ia ingin melanjutkan pendidikannya. Namun, mencari pekerjaan sangat lah sulit.

Dengan semangat yang membara Dian mencari setiap lowongan pekerjaan dan ia memasukan semua Cv nya ke setiap perusaahn. Dan suatu hari ia berhasil dapat panggilan untuk wawancara dan Dian bersaha menjawab semua pertanyaan dengan baik.

Dan akhirnya berhasil di terima karena Dian ingin melanjutkan kuliah ia bekerja di siang hari dan malamnya ia kuliah malam. 4 tahun sudah berlalu meski lelah namun ia tetap memiliki harapan dan akhirnya ia lulus dari universitasnya.

Selain itu Dian mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus jabatannya. Bahwa usaha tidak akan menghianati hasil hanya orang pekerja keraslah yang akan sukses dan Dian membuktikan hal tersebut.

4. “MENGAPA BUKAN IBU GURU SAJA”

Rani, coba kamu ke depan dan kerjakan soal berikut ini?”

“Rani kan udah bu tadi, kenapa harus Rani terus.”

Bu Guru yang mendengar penolakan itu lalu memilih siswa lain yang ingin menjawab soal tersebut. Dan majulah Dani yang akan menjawab soal tersebut.

Lalu soal yang kedua dikerjakan oleh Mahesa. Dan lagi-lagi bu Guru meminta Rani untuk menjawab soal kedua. Ini soal yang sangat mudah.

“Rani kan sudah dapat nilai 100 bu. Rasanya Rani sudah cukup mengerti dengan materi ini.”

“Ya sudah, kali ini ibu meminta Budi yang mengerjakan.” Berbeda dengan Rani Budi bersemangat mengerjakan. Setelah Budi mengerkana soalnya ia pun mengajukan pertanyaan kepada siswa.

“Anak-anak sekalian, pernahkah kalian melihat pedagang buah mangga di pasar tradisional?

“Pernah, Bu”
“Apakah mangganya di jamin manis?”
“Ada yang manis dan juga yang asam, Bu.”

“Nah, coba kalian amati pedagang tersebut. Walaupun menjual mangga yang manis, para pedagang tidak segan mengorbankan sebuah mangga untuk di cicipi oleh calon pembeli. Apakah kalian tahu alasannya?”

“Demi bisa memastikan bahwa mangganya benar-benar manis, iya kan Bu” jawab Rani.

“Lho, tapikan tadi pedagangnya sudah bilang manis?”

“Oke anak-anak, jadi kalian sudah mengerti kan mengapa ibu menguji kalian untuk mengerjakan di papan tulis?”

“Mengerti.”

Termasuk Rani ia mulai paham dengan apa yang di lakukan oleh Bu Guru.

“Bu, bolehkah bertanya?”
“Iya, Rani”

“Begini, Bu,. Ibu kan sudah tahu tentang jawaban yang benar dan salah dari setiap soal mengapa tidak ibu saja yang mengerjakan dan langsung memberi tahu kami jawabannya. Bukankah hal tersebut lebih simple, Bu?”

Bu guru pun tersenyum dan menghela nafas menjawab pertanyaan dari seorang murid yang kadang angkuh dan aktif tersebut. Dan ia mulai menjawab.

“Baiklah, anak-anak sekalian. Karena tadi kita membahas mangga kita lanjutkan. Begini, sebelum menjawab pertanyaan Rani ibu mau bertanya kepada kalian mengapa pekebun mangga malah menjual mangganya ke pasar atau ke gudang buah?”

“Tentu saja agar mendapat keuntungan, Bu”
“Lho, bukannya mangga tersebut bisa di konsumsi sendiri?”
Rani pun menjawab
“Waduh, pasti bosan si pekebun karena makan mangga setiap hari. bisa juga mereka mengalami kerugian”

“Nah, betul sekali. Pas jawabannya. Bu Guru maupun seluruh guru di dunia ini tidak ada bedanya dengan pedagang mangga. Jika ibu hanya memakan ilmu untuk ibu sendiri, maka sudah barang tentu diri ini akan mengalami kerugian karena memberi sedikit manfaat pada orang lain.”

Bel pun berbunyi menandakan usainya pembelajaran dan dengan penjelasan ibu guru tadi Rani dan kawan-kawannya paham tentang analogi mangga dengan pendidikan yang dilakukan oleh seorang guru.

5. PASTI BISA

Aku bernama Diandra aku memiliki cita-cita yaitu menjadi seorang dokter. Aku sadar bahwa aku bukanlah keturunan orang yang kaya raya namun aku bertekad untuk terus berusaha menggapai impianku itu.

Prestasi di kelasku cukup bagus aku selalu mendapatka peringkat pertama juara kelas belum ada yang bisa mengalahkan prestasiku ini. Kegemaranku yang selalu berada di perpustakaan selalu membuat aku dijuluki si kutu buku. Karena disanalah aku akan mudah dicari.

Namun ketika aku lulus aku belum memiliki biaya untuk melanjutkan kuliah sesuai dengan jurusan yang aku mau.

Di suatu hari aku melihat ada sebuah postingan seorang dokter anak bernama Vindy Ruslianti menjadi dokter itu mudah syaratnya Cuma satu yaitu harus Pintar dan Pintar banget.

Sekarang banyak perkuliahan kedokteran yang dikhususkan untuk anak-anak yang cerdas dari golongan menengah kebawah.

Aku coba mengikuti tes yang di share oleh dokter tersebut dan alhamdulillah aku lolos dan di terima di fakultas kedokteran tersebut. Setelah aku lulus aku akan membuka prkatek di kota tempat tinggalku yaitu Bandung.

Selagi ada kesempatan jangan ragu untuk mencoba kamu pasti bisa. Terus menjadi penyemangat diri sendiri karena dirimu akan berubah jika ada tekad dalam dirimu sendiri.

6. GURU HONOR

Namanya Arifin ia merupakan seorang guru honor di sebuah SDN Negri di sebuah kota garut. Ia yang merupakan guru muda yang baru saja masuk mengajar. Dan hari ini ia mendapatkan gaji pertamanya menjadi seorang guru.

Ia memposting gajiannya di sebuah sosial media. sambil memperlihatkan ia membuka amplop yang di dalamnya terdapat uang 3 lembar dengan pecahan Rp. 100.000. dan ia bilang akan menggunakan uang gajian pertamannya untuk membantu salah satu siswa yang tidak mampu.

Dan kebetulan di SD tersebut ada seorang anak dengan pakaian lusuh dan memiliki dasi yang sudah melar dengan topi yang sudah robek di bagian sisinya.

Dan guru tersebut bilang ia akan menggunakan sebagian uang itu untuk membeli perlengkapan sekolah anak tersebut. Dan unggahan tersebut sangat viral.

Dimana semua orang tahu gaji guru honorer ternyata sangatlah jauh di batas kata wajar untuk sebuah gaji. Dibandingkan dengan pengorbanan mereka untuk mencapai pendidikan dan ingin menjadi seorang guru.

7. GURUKU

Bu Aini adalah seorang guru di sebuah MA Swasta di di sebuah kota Bogor. Ia merupakan seorang guru yang ramah dan di cintai semua muridnya. Ia memiliki wajah yang cantik dan prilaku yang baik.

Usianya kini sudah mau jalan 27 tahun. Namun, belum juga menikah. Di hari guru ia merupakan guru yang paling banyak mendapatkan hadiah karena ia menjadi guru paporit di sekolah tersebut.

5 tahun telah berlalu setelah aku keluar dan lulus dari universitas kedokteran aku mengunjungi sekolah tersebut dan bertemu dangan Bu Aini yang kini telah menjadi janda. Dan rasa kagumku dari dulu tidak pernah berubah.

Dan suatu hari akulah yang menjadi pembimbing bu Aini. Ya, aku menikahinya. Dan ia menerima aku sebagai pendamping hidupnya. Oh Guruku kau ku kagumi dan aku banggakan. Kisah kami tiada yang menyangka tapi itulah kebenarannya. Seperti novel muridku suamiku.

8. PERCAYA DIRI ITU PENTING

Aku Linda siswa SMAN Pertiwi. Sekolah kami mengadakan lomba menyanyi. Namun tidak ada perwakilan dari kelas XI A ini. Dan bu guru Aini mendatangi kelas kami dan menanyakan mengapa kelas ini tidak ada perwakilan menyanyi.

Tidak ada yang menjawab karena tidak percaya diri suara kami jelek. Aku berinisiatif untuk mencalonkan diri meski tidak terlalu yakin karena suaraku biasa saja. Dan bu guru Aini menyemangatiku bahwa kamu pasti bisa percaya diri lah kata bu Aini.

Saat perlombaan itu dimulai aku kebagian nomber peserta ke dua. Aku sedikit nerpes. Karena ini pengalaman pertama aku ikut lomba bernyanyi. Ketika mengambil mik tanganku terlihat gemetar dan sangat deg-degan.

Namun di bawah panggung teman-temanku menyemangatiku. Dan saat itu lah aku mulai menguasai diri dan mulai percaya diri ku bahwa aku bisa. Dan lagu pun selesai aku mendapatkan tepuk tangan yang luar biasa dari penonton.

9. JANGAN MENUNDA PEKERJAAN RUMAH

Aku bernama Yanto aku kelas tiga SMP. Hari ini pak Rizal merupakan guru biologi dan dia memberikan tugas untuk esok hari pada papan tulis. Setelah pak Rizal selesai mengajar ia kembali ke ruang guru.

Dan murid-murid mulai menyalin tugas yang harus di kerjakan besok. Ada 5 pertanyaan yang harus di jawab dan aku menganggap soal itu cukup mudah. Sehingga mungkin memerlukan 30 atau satu jam juga selesai.

Dan saat waktu pulang ada temanku yang mengajak main ke rumahnya. Dan akupun ikut pergi ke rumahny lalu kami bermain PS sampai jam 05.00 sore. Setelah sampai rumah aku bermalas- malasan di tempat tidur.

Sehingga aku tertidur sampai pukul 19.00. aku terperanjat dan teringat belum mengerjakan tugas. Dan aku mulai mengerjakan setelah menelaah soalnya aku tidak bisa menemukan jawaban dalam waktu satu jam yang perkirakan tadi.

Soalnya cukup sulit sehingga sekarang jam sepuluh aku baru menyelesaikan 2 soal saya. Dan karena mengantuk aku mengakhiri tugasku dan tertidur. Pagi hari aku bangun telat karena tidur terlalu larut.

Aku pikir nanti di sekolah aku bisa mengerjakan soal lainnya. Setelah di sekolah hanya tersisa lima belas menit lagi dan bel pun berbunyi. Dan sudahlah aku tidak bisa mengerjakan soal tersebut.

Aku di tegur pak Rizal karena hanya aku yang tak selesai mengerjakan tugas dan di hukum berdiri di depan kelas sampai pelajaran selesai sebagai pelajaran kalau ada tugas janganlah di tunda selagi ada waktu lebih baik kerjakan sekarang.

10. PILIHAN SULIT

Namaku Melisa aku merupakan anak SMP swasta kelas 2. Dan kini aku sudah menunggak uang SPP selama tida bulan dan jika dalam waktu tiga bulan lagi tidak di bayar maka aku tidak bisa mengikuti ujian semester.

Ayahku hanya seorang penarik becak. Dimana sekarang pelanggannya sudah memilih naik taxi online atau grab di banding becak yang kurang estetik dan juga kurang aman itu.

Pendapatan ayah pun kian hari kian menipis. Bahkan tak ada sama sekali sehingga membuat biaya SPP ku menunggak. Hanya 150 ribu. Itu jumlah yang tak seberapa namun untuk kalangan kami itu cukup sulit.

Di jalan saat akan berangkat sekolah aku tak sengaja menemukan sebuah dompet hitam. Dan kebetulan di jalan itu sangat sepi. Aku melirik ke kanan ke kiri berharap ada orang yang bertanya mengenai dompet ini.

Namun sudah 15 menit tak ada seorangpun yang mencari. Aku pun mulai membuka dompet tersebut kagetnya aku ternyata berjejer banyak uang merah lembaran.

Aku mencari kartu KTP yang terselip di dompet tersebut dan membaca nama dan alamatnya. Karena telat aku memutuskan menyimpan dompet tersebut ke dalam tas. Dan akan mengembalikan nanti sepulang sekolah.

Setelah pelajaran usai aku memisahkan diri dari yang lain. dan mulai merasa bimbang.
“Itu rezekimu melisa, kamu butuh uang itu untuk biaya sekolah”
“Tidak itu bukan hak mu kembalikan melisa”
“Kamu juga bisa beli sepatu, tas dan mengganti seragam usangmu itu melisa dengan uang ini”
“Jangan melisa itu bukan hak mu. Kembalikanlah”

Begitu bersahutan rasanya di kepalaku percakapan hati dan pikiranku. Dan aku memutuskan untuk mengembalikan kepada yang punya.

“Aku mungkin akan terbebas dari beban duniaku dengan uang ini, tapi urusan akhiratku mungkin akan lebih sulit jika menggunakan uang ini”

Dan allah memberikan jalan keluar yang luar biasa dari pengalamanku ayahku mendapat banyak penumpang dan adanya pekerjaan sampingan lain sehingga kebutuhanku dapat tercukupi dengan baik.

Suka membaca novel dan dunia literasi. Menuangkan ke dalam tulisan agar banyak orang yang tahu apa yang aku baca hari ini.

Artikel Menarik Lainnya: