5 Cerita Rakyat Betawi: Dari Si Pitung Hingga Putri Keong

Cerita Rakyat Betawi yang cukup terkenal adalah Si Pitung. Namun, selain itu ternyata masih banyak cerita rakyat Betawi yang populer di kalangan masyarakat khususnya masyarakat Betawi itu sendiri.

Berikut kami rangkum cerita rakyat yang paling keren yang berasal dari daerah Betawi. Cerita ini cocok sebagai hiburan dan juga sebagai bahan pelajaran banyak pesan moral yang di sampaikan dari cerita rakyat tersebut.

Kumpulan Cerita Rakyat Betawi

Berikut beberapa judul cerita rakyat Betawi yang recomended kamu baca, diantaranya sebagai berikut:

1. Cerita Rakyat Betawi Si Pitung

Si Pitung merupakan seorang pendekar yang berasal dari sebuah kampung di Betawi. Si Pitung merupakan anak dari ayah yang bernama Piun dan ibunya Mpok Pinah.

Pitung merupakan seorang murid bela diri dari Haji Naipin dan Pitung salah seorang pendekar yang cukup hebat. Dia memiliki kesaktian yang luar biasa. Namun, suatu ketika Si Pitung ini berpikir kenapa yang kaya malah semakin kaya dan yang miskin malah makin tertindas.

Karena melihat tetangganya serba kekurangan Pitung memiliki ide untuk mencuri harta si kaya dan membagikannya ke si miskin. Banyak orang kaya yang telah di rampoknya sehingga sang kompeni Belanda mulai terusik dan ingin menangkap Si Pitung.

Namun, tak ada satupun yang dapat mengalahkannya bahkan peluru pun tak tenbus di tubuhnya. Sehingga Kompeni Belanda menangkap gurunya yaitu Haji Naipin. Dan diancamlah guru tersebut dan dengan terpaksa menceritakan kelemahan Si Pitung.

Karena telah tahu kelemahannya maka akhirnya Si Pitung pun kalah dalam melawan para Kompeni tersebut. Kelemahannya yaitu sebuah jimat yang selalu di pakai Si Pitung, namun saat mandi benda itu di lepaskan dan di ambil oleh musuh dan akhirnya dia mempan untuk di tembak peluru.

2. Cerita Rakyat Betawi Putri Keong

Dahulu kala ada sebuah keluarga yang tinggal di sebuah gubuk tua di atas tanah sewaan. Rumah tersebut di tinggali oleh seorang pemuda bernama Ceceng dan juga ibunya yang seorang janda dan tengah sakit.

Lama kelamaan sakit ibu Ceceng semakin parah sehingga merenggut nyawanya. Akhirnya tinggalah Ceceng seorang diri yang harus tiap bulan membayar sewa uang tanah.

Pada suatu ketika sang tuan tanah datang dan menagih uang tersebut kepada Ceceng. Ceceng yang tak memiliki uang pun terus membujuk agar terus di beri waktu.

Namun, sang tuan tanah malah memberikan solusi agar Ceceng mau membajak sawahnya untuk membayar uang sawah dan Ceceng pun setuju. Ketika mencangkul sawah Ceceng meliha seekor keong emas yang cantik dan membawanya ke gubuk dan disimpanlah di sebuah tempayan.

Dan Ceceng pun kemabali ke sawah untuk mencangkul. Setelah sore hari Ceceng pun pulan namun ada yang aneh dari gubuknya. Dimana gubuknya sangat bersih dan rapih dan juga sudah tersedia makanan serta minuman.

Karena Ceceng lapar ia tidak terlalu banyak berpikir dan mengahabiskan makanan tersebut karena lelah akhirnya Ceceng tertidur. Dan bangun pagi hari untuk melaksanakan tugasnya mencangkul sawah.

Kejadian aneh tersebut terulang kembali. Dan karena penasaran dia mengintip apa yang terjadi dan betapa kagetnya dari tempayan muncul seorang gadis cantik. Dan Ceceng pun menanyakan siapa dia.

Setelah sang gadis bercerita bahwa di seorang bidadari yang di kutuk dan pada akhirnya mereka menikah dan memiliki seorang putri bernama Sri Nawangsih.

Namun kabahagiaan Ceceng tidak bertahan lama akhirnya Putri Keong menemukan kembali jubah kebidadariannya dan dia akan kembali ke alam asalnya meninggalkan Ceceng dan juga putrinya.

3. Cerita Rakyat Betawi Sabeni Jagoan Tanah Abang

Pada abad ke 19 ada seorang pendekar muda yang memiliki kemampuan silat luar biasa hebatnya pendekar tersebut berasal dari Tanah Abang bernama Sabeni.

Sabeni merupakan seorang pemuda yang baik hati dan pendekar yang sangat berani serta selalu membela rakyat kecil. Sabeni membela rakyat kecil sampai titik darah penghabisan.

Suatu ketika Sabeni ingin melamar Putri Murtoda yang merupakan kembang desa dan Murtado adalah pendekar kemayoran. Namun, Murtado menolak lamaran Sabeni tersebut dan membuat mereka berkelahi dengan sengitnya.

Pertarungan antara pendekar itu seperti dua bayangan yang saling hantam, baku pukul, tukar tendang dan adu banting secepat kilat. Dan akhirnya setelah Sabeni mengeluarkan jurus pamungkasnya yaitu kelabang nyebrang dengan totokannya akhirnya Murtado di kalahkan Sabeni.

Pada usianya yang sudah 83 tahun Sabeni masih mampu mengalahkan prajurit-prajurit Jepang dengan mudah. Sehingga Jepang pun mengangkat Sabeni sebagai kepala kampung.

Pengangkatan tersebut agar Sabeni tidak memberontak lagi dan agar Sabeni pun tenang melatih murid-murid di perguruan silat nya tanpa ada kendala dari pihak Jepang atau lainnya.

4. Cerita Rakyat Betawi Murtado Macan Kemayoran

Murtado merupakan seorang pendekar tampan yang berasal dari Kemayoran. Selain tampan sikapnya yang santun ia juga seorang pesilat yang cukup handal. Namun, semakin hari keadaan di kampung kemayoran semakin tidak kondusif.

Karena adanya penguasa Belanda yang di lakukan oleh orang pribumi bernama Mandor Bacon dan Bek Lihun. Prilkau mereka telah semena-mena terhadap rakyat kecil.

Hingga puncaknya kekasih Murtado di ganggu oleh Mandor Bacon yang membuat Murtado sangat marah dan terjadilah perkelahian antar mereka dan sudah tahu pemenangnya siapa yaitu Murtado. Mandor Bacon bukanlah tandingan yang setimpal untuknya.

Dan kejadian itu membuat Bek Lihun ingin bersahabat dengan Murtado. Suatu ketika ada komplotan perampok yang meresahkan warga kemayoran yaitu komplotan Warsa. Bek Lihun dan Murtado menyusun rencana untuk menangkap perampok tersebut.

Dan akhirnya perampok tersebut kalah dan hasil rampasan juga para pengikut Warsa tunduk kepada Murtado. Atas kejayaannya tersebut Murtado di ajak Belanda sebagai kepala kampung namun menolak karena Murtado ingin melindungi rakyatnya tanpa bersekongkol dengan pihak Belanda.

5. Cerita Rakyat Betawi Si Jampang dan Pangeran Sarif

Si Jampang merupakan seorang pemuda yang berasal dari daerah Betawi. Waktu Si Jampang terkenal dulu terjadi pada saat masih kekuasaan Belanda.

Si Jampang merupakan seorang ahli silat bela diri yang pandai menggunakan senjata golok dalam pertarungannya. Si Jampang ini merupakan seorang perampok ulung namun baik hati hasil rampasannya tidak untuk dirinya sendiri namun di bagikan kepada rakyat jelata.

Ketika dia masih muda dan menikah pun kebiasaannya merampok masih saja dia lakoni. Hingga istrinya pun meninggal dan anaknya sudah beranjak remaja Si Jampang ini masih saja merampok.

Meskipun dia seorang perampok namun dia ingin anaknya menjadi seorang ahli agama seperti Kiai atau juga ustad sehingga dia mengantarkan anaknya ke sebuah pesantren.

Lain halnya dengan kisah Pangeran Syarif yang merupakan seorang wali ahli agama yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Pangeran Syarif menyebarkan agama islam di wilayah Betawi.

Pada saat daerah Jakarta masih Jayakarta Pangeran Syarif terkenal sebagai wali yang paham ilmu agama dan juga paaham akan Al-qur’an dan Assunah. Pangeran menyebark luaskan ilmu agama islam di seluruh Jayakarta.

Namun kekerasan yang dilakukan oleh Belanda terhadap rakyat Jayakarta membuat pangeran Syarif tidak suka dan mengumpulkan kekuatan dalam menghadapi kekuatan penjajah Belanda.

Artikel Menarik Lainnya: